GUNUNGKIDUL -- Apel Besar Peringatan Hari Pramuka ke-65 Tingkat Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta digelar di Alun-Alun Wonosari Kabupaten Gunungkidul, Sabtu (22/8/2026).
Kegiatan yang mengusung tema “Memantapkan Langkah Organisasi Mendukung Swasembada Pangan Menuju Indonesia Emas 2045” tersebut diikuti kurang lebih 6.550 peserta dari unsur Kwarda DIY dan Kwartir Cabang (Kwarcab) se-DIY.
Gubernur DIY selaku Ketua Majelis Pembimbing Daerah (Mabida) Gerakan Pramuka DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, bertindak sebagai Pembina Apel. Hadir pula Bupati Gunungkidul beserta jajaran Forkopimda, para ketua Kwarcab dan Majelis Pembimbing Cabang, Majelis Pembimbing Ranting di Gunungkidul dan anggota muda serta anggota dewasa pramuka di Gunungkidul
Dalam amanatnya, Sri Sultan menekankan pentingnya peran Gerakan Pramuka dalam mendukung swasembada pangan sebagai bagian dari upaya menuju Indonesia Emas 2045. Menurutnya, karakter Gunungkidul dengan berbagai keterbatasan alam justru mengajarkan nilai keteguhan dan kemandirian yang relevan dengan semangat Pramuka.
Sri Sultan mendorong Gerakan Pramuka DIY mengambil peran dalam penguatan Lumbung Mataraman, dengan menghidupkan kembali pekarangan sebagai ruang produksi pangan, keluarga sebagai simpul ketahanan pangan, dan kalurahan sebagai basis kemandirian.
Ia juga mengajak anggota Pramuka untuk menerjemahkan kecintaan terhadap lingkungan dan pangan melalui tindakan nyata, seperti menanam pangan, menghemat air, menjaga bumi, serta menghargai petani. Langkah-langkah sederhana tersebut dinilai dapat menjadi bagian dari kontribusi Pramuka dalam menyiapkan generasi yang sehat, cerdas dan mandiri.
“Dari Gunungkidul, kita mengirim pesan bagi Daerah Istimewa Yogyakarta dan Indonesia: keterbatasan alam tidak boleh membuat manusia menyerah. Batu karst mengajarkan keteguhan. Pekarangan mengajarkan kemandirian. Pramuka mengajarkan pengabdian,” pesan Sri Sultan.
Rangkaian kegiatan diawali dengan Kirab Peserta Apel atau Pawai Budaya Pramuka Gunungkidul, dilanjutkan penyiapan petugas dan peserta apel. Acara pokok meliputi menyanyikan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya, mengheningkan cipta, pengucapan Pancasila, Pembukaan UUD NKRI Tahun 1945, Dasa Darma dan Dwi Darma Pramuka, pengangungan tanda penghargaan Gerakan Pramuka, amanat Pembina Apel, hingga pembacaan doa.
Usai apel, kegiatan dilanjutkan dengan penyerahan bibit pohon nangka sebagai bagian dari pesan kepedulian terhadap lingkungan. Peserta dan masyarakat juga disuguhi pentas potensi Pramuka Gunungkidul berupa display marching band dan senam Pentul Tembem.
Semarak peringatan Hari Pramuka ke-65 semakin terasa dengan karnaval yang melibatkan 18 Kwartir Ranting (Kwaran). Masing-masing Kwaran menampilkan kreativitas dan potensi daerah dalam pawai budaya tersebut.
Selain karnaval, digelar Bazar Pramuka Kreatif yang diikuti 18 Kwaran. Bazar turut melibatkan Saka POM, Saka Wirausaha, Saka SAR, serta 5 Desa Prima, dengan menampilkan berbagai produk dan kreativitas sebagai bagian dari penguatan semangat kewirausahaan dan kemandirian.
Peringatan Hari Pramuka ke-65 tingkat Kwarda DIY di Gunungkidul menjadi momentum untuk mempererat persaudaraan anggota Pramuka se-DIY sekaligus meneguhkan komitmen Gerakan Pramuka untuk terus hadir dan mengabdi di tengah masyarakat.
Dengan semangat “Satyaku Kudarmakan, Darmaku Kubaktikan”, Gerakan Pramuka DIY diharapkan semakin mampu memantapkan langkah organisasi, memperkuat kemandirian, serta berkontribusi dalam mendukung ketahanan pangan menuju Indonesia Emas 2045.


0 Comments